Insecure dan Berdamai dengan Diri Sendiri

 Insecure dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Akhir – akhir ini topik permasalahan insekuritas atau yang biasa disebut anak zaman sekarang insecure sedang ramai – ramainya dibahas. Insecure merupakan perasaan yang membuat seseorang gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri. Insekuritas sering terjadi ketika kita melihat kelebihan orang lain dan merasa bahwa diri kita kurang. Faktor yang sering dilihat adalah seperti kecantikan, bentuk tubuh, berat badan, tinggi, dan lain lain. Biasanya kasus insekuritas ditemukan pada wanita, walaupun tidak dipungkiri pada pria pun sering kali ditemukan.

“Eh dia cantik banget ya” “Eh dia putih banget ya” eh eh eh. Ya, kalimat itu adalah awalan dari semua rasa insecure yang dirasakan. Bahkan, faktor kita merasa insecure juga ada yang berasal dari luar diri kita, seperti omongan orang, ejekan orang, cemoohan orang. Rasa insecure ini akan membuat kita selalu merasakan kekurangan, menyalahkan keadaan, dan kurang bersyukur atas apa yang diberikan tuhan.

Memang wajar kita merasa insecure, namun jika terus dipikirkan akan berdampak juga kepada kesehatan mental kita. Banyak orang – orang yang berhasil melawan insekuritas dengan berdamai dengan diri sendiri. Tapi, berdamai dengan diri sendiri itu tidak seperti kita membalikkan telapak tangan. Berdamai dengan diri sendiri membutuhkan waktu dan usaha yang sangat besar. Seringkali kita menaruh harapan serta ekspektasi yang begitu tinggi pada diri sendiri. Padahal dengan kita menaruh harapan begitu tinggi, justru hal itu akan menambah beban bagi diri kita.

Berdamai dengan diri sendiri memiliki banyak tantangan, salah satunya adalah mengakui kekurangan dan kelemahan kita. Sebagian besar dari kita akan menyalahkan diri sendiri bahkan cenderung denial bahwa kita memiliki kekurangan. Banyak juga yang berkata pada diri sendiri “Aku bisa, Aku kuat, Aku ga lemah”. Bukankah itu melelahkan?

Mengaku kelemahan kita bukan berarti kita kalah, justru akan membuat kita lebih ikhlas. Setelah kita mengakui kelemahan kita, bukan berarti kita tidak melakukan apa – apa. Justru kita harus mencari jalan untuk menjadi versi kita yang lebih baik dan bangkit.

Banyak berbagai cara kita untuk berdamai dengan diri sendiri, seperti percaya pada diri sendiri, memahami pikiran sendiri, peduli dengan diri sendiri, jangan terlalu ambisius, menyadari bahwa kecewa adalah bagian dari hidup, menghadapi rasa takut, mengakui kelemahan kita dan lain – lain.

Dalam wawancara Niko Junius Bersama Uus di acara Salam Tongkrongan-Uus Kamu Kita, Bang Niko bercerita bagaimana ia bisa berdamai dengan dirinya. Bercerita bagaimana ia mendapatkan bullying secara verbal, hingga proses dimana ia bisa menerima itu. Bang Niko bilang “Setiap orang punya prosesnya masing - masing dalam berdamai dengan diri sendiri, dan kita harus melihat kekurangan kita dari perspektif yang berbeda”.

           Dan juga, dalam wawancara Yudha “Keling” dengan Dzawin, Bang Yudha mengatakan “Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan dan katakan pada diri kita, tapi kita bisa mengontrol pikiran kita atas apa yang dikatakan orang lain”.

           Hingga pada akhirnya, kita dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu Berdamai dengan diri sendiri atau tetap merasa insecure ketika kita melihat sesuatu yang lebih dari kita. Memang, berdamai dengan segala kekurangan yang kita miliki itu berat rasanya. Tapi, mau sampai kapan kita mengeluh? Mau sampai kapan kita mau menangis terus? Hidup kamu, aku, dan kita itu berharga.

Komentar